Home Top Ad

Terjebak Dalam Goa Selama 14 Hari! Oleh 13 Remeja

Share:

Tribun Indonesia88 - 13 remaja terjebak di dalam goa Tham Luang sejak 13 Juni lalu. Secara bertahap, satu per satu berhasil diselamatkan. Sebanyak enam dari 13 orang, selama lebih dari dua pekan, dikeluarkan pada Minggu (8/7/2018). Diwartakan AFP, dua remaja laki-laki pertama muncul pada senja hari dari kompleks goa, setelah mereka melalui rute berbahaya sejauh empat kilometer melalui lorong berliku, sempit, dan tajam.   

Tak lama kemudian, empat lainnya keluar dari goa. Mereka semua langsung dilarikan ke rumah sakit. "Enam dari mereka keluar (dari goa)," Penyelam elit asing dan Angkatan Laut Thailand pada Minggu (8/7/2018) pagi memulai operasi pengamanan di sekitar kompleks goa untuk mengeluarkan 13 remaja dan pelatih sepak bola mereka.

Tim penyelamat berlomba dengan waktu, sebab hujan lebat diperkirakan turun sehingga dapat memicu banjir yang akan menghancurkan misi penyelamatan. "Hari ini adalah hari H. Anak-anak siap menghadapi tantangan apa pun,"


Tim sepak bola remaja dan pelatihnya terperangkap di ruang sempit yang jauh di dalam goa Tham Luang, wilayah pegunungan di Thailand utara, sejak 23 Juni 2018. Mereka masuk setelah latihan sepak bola, dan air mengisi ruangan goa akibat hujan deras sehingga membuat mereka terjebak.

Sebelumnya, Narongsak menyatakan misi penyelamatan tersebut sebagai "Mission Impossible", sebab petugas harus berhati-hati membawa mereka keluar dari goa. Misi penyelamatan yang terjadi dengan cepat untuk mengeluarkan para remaja dari goa mengejutkan salah satu komandan militer. Upaya evakuasi tersebut awalnya diperkirakan bakal memakan waktu beberapa hari.

Seperti diketahui, sekelompok remaja tersebut ditemukan dalam keadaan berantakan dan kelaparan oleh pakar penyelam goa asal Inggris. Kedua penyelam tersebut memberanikan diri untuk masuk lebih jauh ke dalam goa. Kematian seorang penyelam yang juga mantan AL Thailand karena kehabisan oksigen pada Jumat lalu menandai bahaya yang mengintai dalam perjalanan keluar goa, bahkan untuk seorang profesional sekali pun.

Penyelamatan dari Goa


Kepala pelatih tim sepak bola di Thailand menghabiskan pagi pada 23 Juni 2018 untuk menyiapkan asisten mudanya menjalankan tugas pentingnya, yaitu menjaga para remaja tanpa pendampingan dari senior lainnya. Kepala pelatih tim sepak bola bernama Moo Pa, Nopparat Khanthavong (37), memilik janji pada pagi itu dengan Ekapol Chanthawong, asistennya.

Ekapol bertugas untuk membawa anak-anak yang lebih muda ke lapangan bola di dekat pegunungan Doi Nang Non. Untuk menuju ke sana, mereka harus melewati wilayah dipenuhi banyak air terjun dan gua di perbatasan Thailand-Myanmar. "Pastikan Anda mengendarai sepeda di belakang mereka saat kalian bepergian, sehingga kalian dapat tetap waspada,"


Beberapa jam setelah, sebuah peristiwa yang terjadi pada mereka membuat dunia tercengang. Mereka hilang setelah hujan lebat menyebabkan banjir di dalam goa. Pencarian dan penyelamatan dramatis dilakukan untuk menemukan 13 remaja dan Ekapol dalam keadaan hidup, setelah 9 hari terjebak di dalam goa. Mereka ditemukan dalam keadaan berkerumun pada satu area kecil yang berlumpur dan dikelilingi banjir.

Perhatian terfokus pada satu-satunya orang dewasa di kelompok itu, seorang mantan biksu berusia 25 tahun yaitu Ekapol. Pria tersebut menjadi sorotan tentang perannnya dalam kesulitan dan kelangsungan hidup kelompok remaja selama di goa.

Beberapa mengecam Ekapol karena memimpin perjalanan tim sepak bola remaja ke dalam goa, meski ada tanda peringatan besar di pintu masuk goa tentang risiko pada musim hujan., 

Yatim piatu


Namun, banyak juga warga di Thailand yang memberi dukungan kepada Ekapol untuk tetap menjaga anak-anak bertahan di dalam goa. Dia menjalani kehidupan sebagai seorang biksu pada tiga tahun lalu, kemudian dia bergabung pada tim sepak bola Moo Pa sebagai asisten pelatih.

Di media sosial, dia digambarkan dalam gambar animasi dengan duduk bersila, seperti meditasi yang dilakukan oleh para biksu. Pada gambar itu, ada 12 babi hutan kecil (Moo Pa) di lengannya.


Tim sepak bola remaja Thailand berada dalam kondisi yang baik dan sehat, setelah terjebak di dalam goa sejak 23 Juni 2018. (Facebook/AL Thailand)

Menurut petugas penyelamat, Ekapol dalam kondisi paling lemah dalam kelompok itu. Hal itu dikarenakan dia memberi anak-anak jatahnya untuk makanan dan air yang terbatas, yang mereka bawa dalam perjalanan.

Dibaca juga - Sadis! Anak Membunuh Ibu Kandungnya Sendiri


Dia juga mengajarkan anak-anak cara bermeditasi dan menghemat energi sebanyak mungkin sampai dapat ditemukan. "Jika dia tidak ikut dengan mereka, apa yang akan terjadi pada anak saya?"


"Ketika dia keluar (dari goa), kita harus menyembuhkan hatinya. Ek (Ekapol) tersayang, saya tidak akan pernah menyalahkanmu," Ekapol merupakan seorang yatim piatu yang kehilangan orangtuanya pada usia 10 tahun.

Kemudian dia dilatih menjadi biksu tetapi meninggalkan biara untuk merawat neneknya yang sakit di Mae Sai, Thailand utara. Di sana, dia membagi waktunya antara bekerja di kuil dan melatih tim Moo Pa yang baru dibentuk.

Dia menemukan kekuatan dalam diri anak-anak yang tumbuh dalam kemiskinan, etnis minoritas, atau bahkan tanpa kewarganegaraan. "Dia menyayangi mereka lebih dari dirinya sendiri,"

"Saya mengenal dia, dan saya tahu dia akan menyalahkan dirinya sendiri,"

Dalam surat yang ditulisnya dan dirilis oleh AL Thailand, Ekapol menyampaikan permintaan maaf. "Untuk semua orangtua, semua anak-anak kalian masih baik-baik saja. Saya berjanji akan menjaga mereka dengan baik,"

"Terima kasih atas semua dukungan dan saya mohon maaf kepada para orangtua,"

Tidak ada komentar